VISI BARU RSPO UNTUK MEWUJUDKAN TRANSFORMASI MENUJU MINYAK SAWIT LESTARI

Posted on 21 March 2012
 
Laporan Terakhir RSPO Mencatat Pertumbuhan Sustainable Palm Oil di Tahun 2011 Tiga Pillar Strategis Diterapkan di Tahun 2012

Jakarta, 21 Maret 2012 – The Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO), sebuah organisasi multi stakeholder yang bertujuan untuk mengembangkan dan menerapkan praktek berkelanjutan di industri kelapa sawit, hari ini kembali menegaskan bahwa mulai tahun 2012 dan seterusnya, RSPO akan terus fokus terhadap perwujudan visinya dalam menciptakan transformasi di berbagai negara untuk menjadikan sustainable palm oil atau minyak sawit lestari sebagai sebuah norma. Visi baru RSPO ini adalah salah satu resolusi penting yang disepakati pada General Assembly ke-8 (GA8), pertemuan anggota RSPO tahunan yang baru saja diadakan di bulan Februari yang lalu. GA8 kali ini mencatat jumlah kehadiran anggota terbanyak sepanjang sejarah RSPO, dengan mencapai kuorum sebesar 58%. Penasihat RSPO Indonesia dan juga mantan menteri pertanian periode 2001-2004, Prof. Dr. Ir. Bungaran Saragih mengatakan, “Sejak awal saya telah menyatakan komitmen saya terhadap visi dan misi RSPO, karena akan memberikan pengaruh positif terhadap industri kelapa sawit khususnya di Indonesia.

Kini, merujuk pada hasil pertemuan GA8, perjalanan RSPO kedepannya semakin jelas dan mulai sekarang RSPO akan bekerja secara lebih terpadu untuk mencapai tujuan bersama, menciptakan transformasi di berbagai negara untuk menjadikan kelapa sawit lestari sebagai sebuah norma.” “Proses perwujudan transformasi di berbagai negara untuk menjadikan Certified Sustainable Palm Oil (CSPO) sebagai sebuah norma masih berada dalam periode transisi, namun kami optimis bahwa visi RSPO ini dapat diwujudkan dengan komitmen dan kerja sama yang kuat.“ Lebih banyaknya jumlah resolusi yang dibahas pada pertemuan GA8 tahun ini dibandingkan dengan tahun sebelumnya mencerminkan komitmen positif dari para pemain di industri kelapa sawit lestari. Dengan disepakatinya misi-misi baru organisasi, RSPO akan memajukan produksi dan penggunaan produk minyak sawit lestari, mengembangkan, mengimplementasikan, memeriksa, menjamin dan secara berkala meninjau kredibilitas standar global yang diterapkan oleh seluruh pihak di seluruh rantai pasokan minyak sawit lestari. Bungaran menambahkan, ”Walaupun ada beberapa resolusi yang tidak mencapai kesepakatan di pertemuan GA8, kami tetap menghargai resolusi-resolusi tersebut sebagai tujuan awal dari pertemuan GA8 itu sendiri, yaitu untuk menjembatani dialog dan keterlibatan berbagai konstituen yang memang memiliki tekad untuk meningkatkan kualitas industri berkelanjutan.”

Tidak hanya keanggotaan RSPO yang menunjukkan pertumbuhan yang pesat sebesar 30% di tahun 2011, komitmen dari anggota RSPO dan juga pemain lainnya di rantai pasokan CSPO juga tercermin di dalam kenaikan pasokan dan penjualan minyak sawit lestari berdasarkan laporan RSPO mengenai kinerja CSPO di tahun 2011. Setelah RSPO meluncurkan sertifikasi untuk komoditas kelapa sawit pada tahun 2008, pasokan CSPO melonjak sebesar 250%, meningkat dari 1.357.511 metrik ton di tahun 2009 menjadi 4.798.512 metrik ton di tahun 2011. Berdasarkan laporan yang diluncurkan oleh RSPO yang berjudul “2011 RSPO CSPO Growth Interpretation Narrative” (2011 GIN), volume penjualan CSPO tumbuh 6 kali lipat atau sekitar 620% dari 343.857 metrik ton di tahun 2009 menjadi 2.490.526 metrik ton di tahun 2011. Keanggotaan RSPO juga telah berkembang di tahun 2011 dimana jumlah anggota dari kategori produsen consumer goods meningkat lebih dari 60%, jumlah angggota dari kategori ritel meningkat sebesar 50% dan dari kategori prosesor dan pedagang 30%. ”Berdasarkan kinerja CSPO di tahun 2011, mulai tahun ini, RSPO akan melaksanakan visi dan misinya dengan menitikberatkan pada 3 pilar strategis sebagai bagian dari upaya RSPO untuk mewujudkan transformasi menjadikan minyak sawit lestari sebagai sebuah norma,” tutur Bungaran. “Pilar strategis pertama adalah meningkatkan penyerapan CSPO dengan menarik anggota baru dan berkolaborasi dengan negara-negara pembeli baru, seperti India dan Cina, serta memfokuskan pada prosesor, pedagang, produsen consumer goods dan juga ritel.” “Pilar strategis kedua adalah melanjutkan momentum produksi melalui sertifikasi di negara-negara produsen utama, dengan memfokuskan pada keterlibatan dan jangkauan kepada pemerintahan, perusahaan dan asosiasi, serta memfasilitasikan peningkatan kualitas perkebunan skala kecil maupun para pemula di industri kelapa sawit.”

“Pilar strategis ketiga adalah memperkuat kredibilitas dan standar RSPO untuk sertifikasi, melalui proses tinjauan yang sedang dilakukan terhadap Principles & Criteria (P&C) RSPO. RSPO juga akan memperhatikan isu-isu penting seperti emisi GHG dan alih penggunaan lahan secara tidak langsung, serta prosedur RSPO dalam hal New Planting Procedure dan Supply Chain Certification; serta mengusahakan agar RSPO juga diterima dalam skema untuk skema lainnya, seperti misalnya biofuel,” tambah Bungaran. -- Selesai -- Tentang RSPO Menanggapi dorongan global bagi pengelolaan kelapa sawit secara berkelanjutan, Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) didirikan pada tahun 2004 dengan tujuan mempromosikan produksi dan penggunaan produk-produk sustainable palm oil (minyak sawit lestari) melalui standar-standar global yang kredibel dan keterlibatan para pemangku kepentingan kelapa sawit. Sekretariat RSPO berada di Kuala Lumpur, Malaysia dan kantor perwakilan RSPO berada di Jakarta, Indonesia. RSPO merupakan asosiasi nirlaba yang menyatukan pemangku kepentingan dari tujuh sektor industri kelapa sawit, yaitu: produsen kelapa sawit, pedagang dan pengolah kelapa sawit, produsen produk-produk konsumen, ritel, perbankan dan investor, lembaga swadaya masyarakat pelestarian lingkungan, dan lembaga swadaya masyarakat sosial. Bersama para pemangku kepentingan ini, RSPO bertujuan untuk mengembangkan dan menerapkan standar internasional untuk perwujudan sustainable palm oil.

Keragaman dalam keanggotaan RSPO tercermin dalam struktur pemerintahan: para anggota Dewan Eksekutif (Executive Board) dan Kelompok Kerja (Working Groups) merupakan wakil dari setiap sektor. Dengan metode ini, RSPO bekerja dengan sistem yang adil bagi setiap kelompok pemangku kepentingan yang mengusung agenda masing-masing. Dengan adanya sistem tersebut, RSPO juga dapat memfasilitasi kerjasama dan kepentingan beragam antar pihak untuk meraih tujuan yang sama dan mencapai konsensus.

Untuk informasi lebih lanjut, silahkan hubungi:

Sekretariat RSPO:
Anne Gabriel, Communications Director
T:+603-22012053
AnneGabriel@rspo.org

RSPO Indonesia:
Desi Kusumadewi RSPO Indonesia Director
T:+62 21 5794 0222
desi@rspo.org


«  Back