GENERAL ASSEMBLY RSPO ke 8 BERHASIL MENCAPAI KUORUM

Posted on 09 March 2012
 
Kuala Lumpur, 9 Maret 2012 – Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) sukses menyelenggarakan rapat tahunannya, General Assembly ke 8 (GA8) kemarin, 8 Maret 2012, di Kuala Lumpur, Malaysia. Pertemuan anggota tahunan ini diselenggarakan setelah beberapa waktu yang lalu RSPO mengumumkan laporan analisa tahunan ** dari pertumbuhan Minyak Kelapa Sawit Lestari Bersertifikasi atau Certified Sustainable Palm Oil (CSPO) tahun 2011. Laporan tersebut menunjukkan adanya pertumbuhan sebesar 73 persen CSPO dengan kenaikan 94 persen terhadap volume penjualannya.

GA8 merupakan pertemuan tahunan yang dilaksanakan sesuai dengan aturan organisasi dan RSPO Statues untuk membahas resolusi-resolusi yang harus dirundingkan dan diputuskan oleh anggota RSPO.

Pertemuan RSPO tersebut disaksikan oleh kehadiran jumlah anggota yang cukup besar dari seluruh dunia meskipun pertumbuhan jumlah anggota cukup agresif dengan angka kenaikan lebih dari 30 persen. Karena domisili para anggota yang tersebar di bermacam-macam negara, 75 persen dari seluruh anggota RSPO hadir secara langsung di pertemuan GA8 ini yang diwakilkan oleh proxy.

Presiden RSPO dan juga Global Director Sustainable Sourcing Development untuk Unilever, Jan Kees Vis mengatakan,”GA8 kali ini membahas lebih banyak resolusi dari tahun sebelumnya, dan hal ini mencerminkan semakin tingginya kepentingan, partisipasi dan juga komitmen dari para anggota. Resolusi yang disetujui di General Assembly ini termasuk Vision and Mission Statement baru, yaitu bahwa “RSPO Akan Merubah Pasar Dengan Menjadikan Minyak Sawit Lestari Sebagai Sebuah Norma”. Sedangkan Mission Statement yang baru menyatakan bahwa RSPO akan: memajukan produksi, pembelian, keuangan, dan penggunaan produk minyak sawit lestari; mengembangkan, mengimplementasikan, memeriksa, menjamin dan secara berkala meninjau kredibilitas dari standar global untuk seluruh rantai pasokan minyak sawit lestari; memantau dan mengevaluasi dampak ekonomi, lingkungan dan sosial dari penyerapan minyak sawit lestari di pasar; melibatkan dan membangun komitmen seluruh pemangku kepentingan yang ada di sepanjang rantai pasokan, termasuk pemerintah dan konsumen.“

“Walaupun beberapa resolusi yang diajukan oleh Growers dari Malaysia (bersama dengan Growers dari Indonesia) tidak mencapai kesepakatan di dalam General Assembly, Executive Board RSPO secara bulat menyimpulkan adanya nilai dan manfaat yang signifikan dari resolusi yang diajukan tersebut. Inti dari semua resolusi tersebut adalah untuk menunjukkan rasa semangat dari seluruh perwakilan RSPO dalam beberapa hal, seperti: peningkatan tata kelola dan kepemimpinan; keterwakilan yang meningkat dan berimbang; penyempurnaan persyaratan konstitusional; dan rencana yang pasti dalam mendorong penyerapan CSPO. Kami berterimakasih kepada para grower atas kontribusi yang strategis ini. Walaupun ada beberapa grower yang mungkin merasa kecewa dengan hasil kesepakatan dari GA8, Executive Board RSPO ingin memastikan para konstituen bahwa RSPO berkomitmen untuk membahas dan membicarakan hal tersebut untuk mengedepankan kepentingan dan kebutuhan mendasar dari para grower.

“Meskipun resolusi mengenai moratorium untuk sertifikasi yang diajukan oleh MPOA (Malaysian Palm Oil Association) tidak mencapai kesepakatan, keprihatinan dari para grower terhadap penyerapan CSPO dapat disikapi melalui resolusi lain yang telah disepakati yaitu meningkatkan kualitas dari rencana dengan tenggang waktu untuk setiap konstituen termasuk di antara grup stakeholder yang ada. Hal ini dapat dijadikan sebagai wadah untuk mendorong respon yang tegas dari sisi permintaan yang ada di rantai pasokan.
Kemarin, anggota RSPO yang hadir di GA8 (termasuk para proxy yang ditunjuk), berhasil mencapai kesepakatan atas 4 resolusi yang berkaitan dengan RSPO; 7 resolusi yang diajukan tidak mencapai kesepakatan; dan 3 resolusi ditarik kembali oleh MPOA dari total 14 resolusi yang telah diajukan.

Resolusi yang berhasil disepakati di GA8 adalah:
  • Resolusi 6a - Anggota RSPO memutuskan untuk memastikan penunjukkan Pricewater House Coopers sebagai auditor RSPO untuk laporan keuangan tahunan yang berakhir pada Juni 2012.
  • Resolusi 6b - Anggota RSPO memutuskan untuk menyetujui Vision Statement baru, yaitu bahwa “RSPO Akan Merubah Pasar Dengan Menjadikan Minyak Sawit Lestari Sebagai Sebuah Norma”. Anggota juga memutuskan untuk menyetujui beberapa Mission Statement baru, yang menyatakan bahwa RSPO akan: memajukan produksi, pembelian, keuangan, dan penggunaan produk minyak sawit lestari; mengembangkan, mengimplementasikan, memeriksa, menjamin dan secara berkala meninjau kredibilitas dari standar global untuk seluruh rantai pasokan minyak sawit lestari; memantau dan mengevaluasi dampak ekonomi, lingkungan dan sosial dari penyerapan minyak sawit lestari di pasar; melibatkan dan membangun komitmen seluruh pemangku kepentingan yang ada di sepanjang rantai pasokan, termasuk pemerintah dan konsumen.
  • Resolusi 6c – Anggota RSPO memutuskan mengamandemen kuorum yang dibutuhkan dalam ketetapan RSPO dimana General Assembly akan dianggap sah apabila minimal 80 dari Ordinary Members RSPO hadir atau diwakilkan.
  • Resolusi 6m - Anggota RSPO sepakat bahwa semua Ordinary Members dari kategori grower, pedagang, prosesor, produsen barang konsumen dan juga pedagang eceran diharuskan mengirim kepada Sekretariat RSPO mengenai rencana dengan tenggang waktu untuk memproduksi, memperdagangkan, memproses, membeli dan/atau menggunakan 100 persen CSPO sebelum diselenggarakannya General Assembly ke 9.
Resolusi yang tidak berhasil disepakati di GA8 adalah:
  • Resolusi 6d – Anggota RSPO tidak sepakat untuk mengamandemen beberapa artikel di dalam ketetapan RSPO terkait General Assembly dan Extraordinary General Assembly RSPO.
  • Resolusi 6f yang disponsori oleh MPOA dan Grower dari Indonesia – Anggota RSPO tidak sepakat bahwa General Assembly dapat dinyatakan valid dan sah, harus dihadiri oleh perwakilan dari tiap kategori anggota RSPO dan bahwa keterwakilan yang proporsional dari kuorum apapun harus berdasarkan konstituensi.
  • Resolusi 6g yang disponsori oleh MPOA – Anggota RSPO tidak menyepakati untuk merevisi semua pasal-pasal yang relevan dalam peraturan dan undang-undang RSPO yang mengharuskan Presiden RSPO dipilih langsung oleh General Assembly dari calon-calon yang diajukan oleh setiap kategori keanggotaan sebagai perwakilannya dan pernah duduk dalam Executive Board. Sebagai tambahan, para anggota juga sepakat bahwa peraturan masa jabatan Presiden RSPO dibatasi menjadi 2 periode berturut-turut.
  • Resolusi 6h yang disponsori oleh MPOA – Anggota RSPO tidak menyepakati untuk menghilangkan semua ambiguitas dalam kepemimpinan dan manajemen institusional RSPO dengan secara jelas menentukan peran dan tanggung jawab seluruh badan-badan yang mengelola dan memimpin RSPO, dan juga memisahkan antara fungsi eksekutif dan non-eksekutif sesuai dengan praktek dan kepemimpinan institusional terbaik, untuk kemudian struktur kepemimpinan kelembagaan yang mengadopsi struktur pemerintahan terbaik atau yang setara.
  • Resolusi 6j yang disponsori oleh MPOA – Anggota RSPO tidak sepakat untuk menyetujui diberlakukannya moratorium atas sertifikasi RSPO hingga persediaan dan permintaan CSPO di pasar seimbang. Periode moratorium tidak dimasukkan dalam rencana-rencana perusahaan yang bersangkutan dimana sudah ditetapkan jangka waktunya.
  • Resolusi 6l – Anggota RSPO tidak sepakat untuk menciptakan kategori baru bagi perusahaan transnasional dan organisasi untuk menjadi Ordinary Members RSPO. Kategori ini akan menyediakan satu kursi perwakilan dengan wakil alternatif yang dinominasikan dari kategori baru.
  • Resolusi 6n – Anggota RSPO tidak menyepakati untuk menghapus semua formulasi paraquat dalam produksi minyak kelapa sawit, dan juga mengadopsi Manajemen Gulma Terpadu (Integrated Weed Management) secara cepat. Disepakati pula bahwa RSPO bekerja sama dengan grower dan lembaga swadaya masyarakat akan mengimplementasikan penghapusan penggunaan dan pembelian semua formulasi paraquat, dan juga penghapusan stok paraquat yang masih ada dalam waktu satu tahun.
Resolusi yang ditarik kembali oleh MPOA di GA8 adalah:
  • Resolusi 6i diajukan sebelumnya oleh MPOA untuk melindungi mekanisme pengambilan keputusan multi stakeholder RSPO dengan cara memastikan bahwa seluruh Standing Committees (SCs) harus memiliki perwakilan Executive Board dan Ordinary Members yang proporsional.
  • Resolusi 6k diajukan sebelumnya oleh MPOA untuk menegaskan komitmen RSPO terhadap visi dan misinya, dengan tidak lagi mendukung jalur apapun untuk opset, sertifikasi atau transaksi lainnya yang memperbolehkan klaim sustainability dibuat oleh – atau diperuntukkan bagi – segala sesuatu yang bukan produk fisik CSPO yang benar dan setiap produk turunannya.
Pada saat berlangsungnya General Assembly ke 8 kemarin, berlangsung pemilihan dari anggota Executive Board RSPO yang mewakili Non-Governmental Organization (NGO) untuk lingkungan. Tim Killeen dari Convervation International (CI) terpilih kembali untuk masa jabatan 2 tahun ke depan.

Kesepakatan yang dicapai pada pertemuan GA8 atas beberapa resolusi jelas menandakan kemajuan yang signifikan bagi seluruh anggota RSPO dalam melanjutkan upaya mencapai tujuan bersama di negara mereka masing-masing. Kami berharap dengan diadopsinya resolusi-resolusi tersebut dapat mengajak para anggota RSPO untuk bekerjasama secara lebih erat dan efektif menuju perwujudan sustainability,” Sekretaris Jendral RSPO, Darrel Webber menyimpulkan.

** RSPO belum lama ini meluncurkan laporan hasil tinjauan kualitataif perdana yang berjudul: “2011 RSPO CSPO Growth Interpretation Narrative” (GIN)”. Laporan ini merupakan sebuah tinjauan yang pertama kali dilakukan bagi komoditas berkelanjutan manapun. GIN dilakukan untuk mencatat dan menganalisa pertumbuhan dan perkembangan RSPO dan CSPO di pasar global. GIN dapat diakses di situs resmi www.rspo.org.

Tentang RSPO
Menanggapi dorongan global bagi pengelolaan kelapa sawit secara berkelanjutan, Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) didirikan pada tahun 2004 dengan tujuan mempromosikan produksi dan penggunaan produk-produk sustainable palm oil (minyak sawit lestari) melalui standar-standar global yang kredibel dan keterlibatan para pemangku kepentingan kelapa sawit. Sekretariat RSPO berada di Kuala Lumpur, Malaysia dan kantor perwakilan RSPO berada di Jakarta, Indonesia.

RSPO merupakan asosiasi nirlaba yang menyatukan pemangku kepentingan dari tujuh sektor industri kelapa sawit, yaitu: produsen kelapa sawit, pedagang dan pengolah kelapa sawit, produsen produk-produk konsumen, ritel, perbankan dan investor, lembaga swadaya masyarakat pelestarian lingkungan, dan lembaga swadaya masyarakat sosial. Bersama para pemangku kepentingan ini, RSPO bertujuan untuk mengembangkan dan menerapkan standar internasional untuk perwujudan sustainable palm oil.

Keragaman dalam keanggotaan RSPO tercermin dalam struktur pemerintahan: para anggota Dewan Eksekutif (Executive Board) dan Kelompok Kerja (Working Groups) merupakan wakil dari setiap sektor. Dengan metode ini, RSPO bekerja dengan sistem yang adil bagi setiap kelompok pemangku kepentingan yang mengusung agenda masing-masing. Dengan adanya sistem tersebut, RSPO juga dapat memfasilitasi kerjasama dan kepentingan beragam antar pihak untuk meraih tujuan yang sama dan mencapai konsensus.

Untuk informasi lebih lanjut, silahkan hubungi:

Sekretariat RSPO:
Anne Gabriel, Communications Director
T:+603-22012053
AnneGabriel@rspo.org

RSPO Indonesia:
Desi Kusumadewi
RSPO Indonesia Director
T:+62 21 5794 0222
desi@rspo.org


«  Back